Kasih dan Uang

uang berbicara

kasih berbisik

 

uang membangun tempat tinggal

kasih membangun rumah tangga yang bahagia

 

uang dapat memerintah

kasih selalu melindungi

 

uang menciptakan celah antara kaya dan miskin

kasih menciptakan jembatan di antara mereka

 

uang dapat membuat tembok penghalang di antara sesama

kasih dapat mempersatukannya

 

uang dapat menimbulkan kejahatan

kasih menciptakan perdamaian

 

oleh karena itu bersyukurlah jika engkau menerima lebih banyak KASIH dibandingkan dengan UANG.

UANG penting, namun akan menjadi tidak berarti tanpa KASIH

Dipublikasi di Renungan | Meninggalkan komentar

Respon Terhadap Anugerah (Efesus 2:10)

Paulus dalam pasal 2 ini ingin menjelaskan bahwa kita dulu mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita. Hidup kita dipenuhi dengan pelanggaran dan dosa. Namun Yesus menyelamatkan kita semua dari setiap pelanggaran dan dosa tersebut. Bukan hanya diselamatkan, kita yang telah mati juga dibangkitkan bersama dengan Yesus. Semua itu Ia lakukan karena kasih-Nya pada setiap umat percaya. Kebangkitan yang dialami mengharuskan kita setiap orang percaya untuk meninggalkan kehidupan yang lama, kehidupan yang penuh pelanggaran, kehidupan yang penuh dosa. Kebangkitan ini menjadikan kita ciptaan yang baru di dalam Kristus Yesus. Ketika menjadi ciptaan baru, bukan hanya meninggalkan kehidupan yang lama tapi juga harus ada respon yang diberikan terhadap anugerah yang telah Tuhan berikan kepada setiap kita.

Respon apa yang harus diberikan atas anugerah keselamatan yang telah kita terima dari Tuhan? Banyak respon yang dapat ditunjukan atas anugerah keselamatan yang kita terima salah satunya adalah dengan mengucapkan syukur. Tapi pengucapan syukur saja tidak cukup, harus ada aksi yang dilakukan sebagai respon yang konkrit terhadap anugerah tersebut. Mari sama-sama kita memperhatikan ayat yang tadi.

  1. Melakukan Pekerjaan Baik

Saat kita mendengar kata pekerjaan baik pasti yang terlintas dalam benak setiap kita adalah memberi sumbangan kepada orang yang tidak mampu, menolong orang yang kesusahan. Pokoknya melakukan hal yang membawa keuntungan bagi diri kita, melakukan hal yang memuliakan diri sendiri dan membanggakan bagi kita. Banyak orang yang melakukan pekerjaan baik itu untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Tapi yang dimaksud Paulus dengan pekerjaan baik disini bukanlah hal-hal yang seperti saya sebutkan tadi. Yang dimaksud dengan pekerjaan baik disini adalah dimana kita melakukan kehendak Tuhan, melakukan apa yang baik menurut Tuhan bukan apa yang baik menurut manusia.

Pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan kita, bukan karena usaha kita, bukan karena pekerjaan kita tapi karena kasih karunia dari Tuhan kita. Bukan berarti karena kita sudah diselamatkan maka kita tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Kita hanya duduk manis dengan keselamatan yang sudah kita terima tanpa mempedulikan orang-orang di luar sana yang belum mendapatkan keselamatan bahkan belum mengenal siapa itu Yesus.

Sebagai orang yang sudah ditebus dan diselamatkan, saya dan saudara memiliki kewajiban untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Tuhan tentukan sebelumnya. Pekerjaan baik seperti apa? Pekerjaan baik yang Tuhan ingin kita lakukan adalah membagikan keselamatan yang sudah kita terima kepada orang-orang di luar sana, kepada orang-orang yang belum percaya. Ini bukan berarti kita melakukan pekerjaan baik karena kita berhutang kepada Tuhan, melainkan kasih Allah itulah yang menanamkan kewajiban kepada kita untuk berusaha melakukan pekerjaan baik sepanjang hidup kita. Tujuan dari melakukan pekerjaan baik ini adalah untuk memuliakan Tuhan.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa melakukan semua pekerjaan baik ini?

  1. Hidup Dalam Yesus

Tentulah tidak mudah bagi kita untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi setiap kita. Dalam melakukan kehendak Tuhan sering kali saya dan saudara mengandalkan kemampuan masing-masing pribadi. Bahkan kita sering memegahkan diri atas keberhasilan yang dicapai. Kita sering berkata “ Lihat nich, saya bisa kan melakukan semuanya sendiri. Saya ga butuh bantuan siapa pun. Saya mampu koq sendirian.” Kita sering merasa diri sombong karena mampu melakukan segala hal. Padahal kita lupa bahwa semua yang kita capai, semua yang kita miliki, semua yang kita raih itu semata-mata pemberian dari Tuhan sebagai bukti kasih-Nya pada saya dan saudara.

Tidak mungkin bagi kita untuk melakukan segala sesuatunya sendirian, apalagi dalam melakukan pekerjaan baik yang telah Tuhan tentukan sebelumnya. Pekerjaan baik itu hanya dapat dilakukan jika umat percaya hidup di dalam-Nya. Saat kita hidup di dalam Yesus, Ia yang akan memberikan kemampuan bagi setiap kita untuk dapat melakukan pekerjaan baik tersebut. Tuhan yang memberikan pekerjaan baik tersebut, Tuhan pulalah yang akan memberikan kemampuan untuk melakukannya. Dalam melakukan pekerjaan baik ini bukanlah masalah bisa tidak bisa tapi mau atau tidak mau. Saat kita mau untuk melakukan pekerjaan baik ini maka Tuhan akan turut serta dalam pekerjaan baik ini.

Sering dalam kehidupan kita, saya dan saudara menyia-nyiakan keselamatan yang telah diterima. Kita masih hidup menurut cara hidup yang lama, hidup dengan pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa yang dulu. Hal ini memperlihatkan bahwa pengorbanan yang telah Yesus lakukan, kebangkitan kita bersama dengan Yesus menjadi sia-sia.

Namun melalui pemberitaan Firman Tuhan pagi ini mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap, bagaimana seharusnya respon kita atas keselamatan yang telah Tuhan berikan bagi setiap orang percaya. Bukan hanya mengucapkan syukur atas anugerah keselamatan yang telah diterima tapi juga melakukan pekerjaan baik yang telah Tuhan tentukan sebelumnya dan hidup di dalam-Nya serta hidup di dalam pekerjaan baik itu. Marilah setiap kita mulai sekarang belajar untuk memberikan respon atas setiap anugerah yang telah Tuhan berikan bagi saya dan saudara.

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Hidup Baru

I. Pendahuluan

Manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdosa dan bertugas untuk memelihara ciptaan yang lain. Namun karena ketidaktaatan, manusia jatuh ke dalam dosa dan kehilangan keselamatan yang mereka miliki. Selain itu, hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak. Untuk memperbaiki hubungan yang telah rusak itu, manusia membutuhkan penebusan dan keselamatan yang hanya dapat diterima dalam Kristus Yesus. Paulus dalam surat-suratnya memberikan penjelasan yang dalam tentang karya penebusan dan keselamatan.

Keselamatan yang diterima oleh manusia merupakan pemulihan relasi yang benar dengan Allah. Keselamatan tidak hanya menghasilkan relasi yang baru, tetapi pemulihan seluruh hidup dalam pengertian yang paling menyeluruh. Salah satu pengaruh dari pemulihan kehidupan manusia adalah peniadaan dosa dalam diri manusia. Sehingga manusia mengalami hidup baru, yaitu hidup dari karya Roh Kudus, di mana iman sebagai modus keberadaan dan mengalami kemerdekaan Kristen.[1]

Sederhananya hidup baru dapat diartikan di mana seorang manusia meninggalkan kehidupannya yang lama dan hidup di dalam Roh. Meninggalkan segala dosanya dan menuju Kristus. Mungkin banyak orang yang bingung dengan maksud dari hidup baru ini. Maka akan dibahas mengenai hidup baru dari konsep Paulus.

II. Konsep Hidup Baru Menurut Paulus

Untuk dapat mengerti bagian ini, kita perlu melihatnya dari garis eskatologis sejarah-penebusan. Paulus melihat pembenaran dari pelanggaran dosa, kelepasan dari kuasa dosa, pembaruan, pengudusan, dan iman, sebagai realitas “eskatologis” yang harus dipahami sebagai penyataan aeon baru di dalam kedatangan dan karya Kristus. Karya Roh Kudus juga termasuk di sini. Semua yang Ia perbarui, cipta ulang, ubah, dalah baru dan berbeda karena semua ini terkait dengan “kebaruan” eskatologis ini.[2]

Pengajaran Paulus tidak menunjukkan perkembangan sistematis seperti ordo salutis, yaitu doktrin mendetail tentang aplikasi antropologis dari keselamatan. Hal ini tidak hanya dikarenakan doktrin Paulus tidak bersifat “sistematis” dalam pengertian ilmu pasti, tetapi terutama karena sudut pandangnya berbeda.

Titik berangkat dari doktrin Paulus tentang hidup baru tidak berasal dari doktrin “makhluk” (creature) baru, melainkan dari “ciptaan” (creation) baru, seperti yang dinyatakan dalam 2 Korintus 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”[3] Paulus menyebutnya ciptaan baru karena ini memperkenalkan sebuah cara baru dari keadaan manusia dunia, di mana Kristus dan orang Kristen memiliki sebuah simbiosis.[4]

II.1 Mati dan Bangkit Dengan Kristus

Kematian dan kebangkitan Kristus tak terpisahkan, baik secara historis maupun teologis, dari kedua aspek ini, kematian dan kebangkitan menjadi inti pemberitaan Paulus.[5] Rujukan kepada baptisan menjadi bukti pertama akan hal ini. Paulus merujuk baptisan karena baptisan menyatakan penyatuan kita dengan Kristus atau pengenaan Kristus dengan kita. Saat kita dibaptis masuk ke dalam Kristus dan menjadi milik-Nya, maka apa yang pertama-tama terjadi di dalam Dia juga sah bagi kita. Dengan kata lain ketika Kristus mati di atas kayu salib, kita semua juga mati bersama-Nya.[6]

Baptisan adalah sebuah simbol yang memfokuskan perhatian kepada kebangkitan orang percaya. Seperti kematian, begitu juga dengan kebangkitan, proses keduanya berhubungan dan individual.[7] Mati bersama Kristus harus dimengerti sebagai mati bagi dosa (yaitu tidak lagi tunduk kepada kuasanya) dan “menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” harus dimengerti dan dialami sebagai hidup bagi Allah.

Dalam Kolose 3:1-4, Paulus berbicara tentang mati bersama Kristus, melalui mana kita seharusnya tidak lagi menaruh perhatian terhadap perkara yang di bumi, tetapi yang di atas. Yang dimaksud dengan “perkara yang di bumi” bukan perkara dunia atau temporal secara umum, tetapi apa yang membelenggu dan menawan manusia.[8] Seperti yang Paulus katakan dalam kematian Kristus kita telah mati bagi kuasa dosa, dunia, dan Taurat, maka dalam kebangkitan Kristus, kita telah dibebaskan bagi Dia yang Lain, yaitu agar kita hidup bagi Kristus, atau bagi Allah.

Hidup baru dikomunikasikan melalui Injil; firman Allah yang berotoritas dan mencipta ulang dinyatakan oleh cahaya Injil di dalam hati mereka yang diselamatkan. Karena itu, baptisan sebagai masuknya kita ke dalam Kristus adalah garis demarkasi antara yang lama dan baru, dan iman dalam Injil adalah penilaian baru, yaitu bahwa mereka telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. Karena itu, menjadi ciptaan baru berarti hidup dalam kemerdekaan bagi Allah dan tidak lagi menjadi budak dosa.[9]

II.2 Hidup Oleh Roh

Orang yang telah menerima hidup baru tidak lagi hidup di dalam daging melainkan hidup di dalam Roh. Manusia yang ditebus memang tetap tidak punya kekuatan dari dirinya sendiri, tetapi karena Roh, ia hidup, “oleh karena kebenaran”.[10] Seperti halnya Paulus secara erat mengaitkan hidup baru dengan kematian dan kebangkitan Kristus, demikian pula relasi antara hidup baru dan hidup oleh Roh tidak kurang penting baginya.

Bagi Paulus, karya Roh Kuduslah yang paling vital, manusia tidak dapat pulih tanpa pertolongan dari Roh Kudus.[11] Roh Kudus memberikan hidup kepada orang yang percaya, Roh Kudus yang mempersatukan manusia dengan Tuhan, Roh Kudus tinggal di dalam hati orang-orang percaya, Roh Kudus diberikan sebagai meterai bagi orang percaya, dan Roh Kudus yang memampukan orang percaya untuk hidup dalam kehendak pencipta-Nya.

Dengan masuk ke dalam Kristus, kita berbagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya, dan dalam iman, kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. Tetapi kesatuan dengan Kristus ini membuat kita juga berbagian dalam Roh, karena Roh adalah Roh Tuhan. Berada dalam Kristus, menjadi milik-Nya, berarti “memiliki” Roh, dan seorang yang tidak memiliki Roh Kristus, “ia bukan milik Kristus”. Orang yang disatukan dengan Kristus oleh baptisan dan dibaptis ke dalam tubuh-Nya, juga dibaptis ke dalam Roh Kudus yang memenuhi tubuh Kristus.[12]

Seorang yang telah mengalami hidup baru dan hidup di dalam Roh tentunya akan menghasilkan buah Roh dalam kehidupannya seperti yang terdapat dalam Galatia 5:22-23 yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Buah Roh adalah hasil pekerjaan Roh Kudus yang tinggal dalam diri orang percaya dan menjadi kekuatan dalam kehidupan orang percaya. Pekerjaan Roh Kudus adalah membuat orang percaya menyimpan semua perintah, dan dengan demikian muncul ketaatan.[13]

Orang percaya telah masuk ke dalam konteks hidup yang baru di dalam Kristus, yaitu konteks hidup yang berada di bawah pimpinan Roh, dan cara hidup mereka harus berpadanan dengan tempat mereka di bawah kedaulatan baru yang bersifat menebus ini. Ini berarti bahwa hidup orang percaya harus menurut Roh dan dipimpin oleh Roh.

II.3 Iman Sebagai Modus Eksistensi dari Hidup Baru

Oleh iman kita tahu bahwa kita telah mati dan bagi dosa dan hidup bagi Allah. Oleh iman, melalui baptisan, kita telah dikubur dan dibangkitkan bersama Kristus. Melalui iman, Roh Kudus menyatakan diri kepada manusia melalui semua karya dan anugerahnya, dan membuat manusia berbagian dalam hidup baru. Relasi jemaat dengan Roh Kudus dan cara mereka berbagian di dalam-Nya, ditentukan oleh relasi jemaat dengan Kristus, yaitu oleh iman kepada Kristus.

Umumnya Paulus pertama-tama berbicara tentang iman dan setelah itu tentang Roh. Iman tidak hanya mendasari hidup baru dan karya Roh Kudus, tetapi anugerah Roh Kudus itu sendiri diterima melalui iman. Roh Kudus berkali-kali menjadi anugerah waktu penebusan, isi dari janji penebusan yang diberikan di masa lalu. Dan iman di dalam Kristus adalah cara atau sarana untuk kita berbagian di dalam Roh yang dijanjikan ini.

Tetapi tidak berarti iman bukan merupakan karya Roh Kudus, seolah-olah iman adalah keputusan yang bisa manusia pakai untuk menjamin keberbagiannya dalam keselamatan. Paulus memang lebih menonjolkan karakter iman yang aktif, tetapi tidak ada keraguan bahwa iman bersifat taat dan tunduk kepada kehendak penebusan ilahi, tidak bersandar pada persetujuan manusia, tetapi pada kuasa anugerah ilahi yang membarui dan mencipta ulang.[14]

Iman orang Kristen adalah pemberian dari Allah dari seluruh proses keselamatan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” Efesus 2:8.[15]

Paulus menetapkan beberapa kandungan dalam iman persisnya seperti:[16]

1. Paulus menjelaskan secara lengkap tentang iman yang terdapat dalam Roma 4:16-25 dengan membandingkannya dengan iman yang dimiliki oleh Abraham. Abraham mempercayai Allah dan janji-Nya walaupun Abraham tidak tahu bagaimana nantinya. Sebagai orang Kristen juga harus percaya, dalam terang salib dan Alkitab, percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Kristus. Kandungan iman yang pertama adalah Allah sendiri; tapi siapa Allah, dan sebaliknya, menjadi jelas melalui iman.

2. Iman berarti mengakui Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hati kita seperti yang tertulis dalam Roma 10:9 “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Seorang yang percaya dalam Yesus Kristus adalah yang menerima kematian dan kebangkitannya sebagai penyataan Allah dari keselamatan.

3. Paulus menggabungkan antara iman dan keselamatan. Kalimat pengandaiannya terdapat dalam Roma 10:9 “ Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu . . . dan percaya dalam hatimu . . ., maka kamu akan diselamatkan.” Menimbulkan kesan tak langsung bahwa iman adalah syarat untuk mendapatkan keselamatan.

III. Kesimpulan

Keselamatan yang diperoleh manusia di dalam Kristus membawa pemulihan hubungan di antara Allah dan manusia. Bukan hanya membawa pemulihan hubungan Allah dengan manusia tapi juga pemulihan hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan dirinya sendiri. Selain itu, manusia memperoleh hidup baru di dalam Kristus. Yang dimaksud dengan hidup baru di sini adalah manusia tidak lagi hidup bagi dosa tapi manusia hidup bagi Allah.

Manusia mengalami kematian dan kebangkitan bersama dengan Kristus, hidup di dalam Roh, dan iman menyatakan eksistensi kita dalam hidup baru. Kita telah mati bersama Kristus berarti kita telah meninggalkan segala kehidupan kita yang lalu dan menerima hidup yang baru dalam Kristus bukan lagi di dalam dosa. Namun semuanya bukan didapatkan karena usaha kita sendiri, tapi karena pekerjaan Roh Kudus. Kita yang memiliki hidup baru juga hidup di dalam Roh, hidup di bawah pimpinan Roh Kudus. Penerimaan Roh Kudus di dalam hidup kita bukan karena kemampuan kita tetapi karena iman yang kita miliki. Melalui iman tersebut, Roh Kudus terus memperbarui kita, membawa kita ke hadirat Allah dan melayakkan kita untuk menerima kehidupan yang baru yang telah disediakan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib.

Sebagai ciptaan-Nya yang baru hendaknya kita menyerahkan segala kehidupan kita ke dalam tangan-Nya, menuruti setiap kehendak-Nya, hidup taat kepada-Nya. Dengan demikian kita akan lebih lagi mengenal Allah kita yang telah memberikan kehidupan yang baru bagi setiap kita orang yang percaya.


[1] Herman Ridderbos, Paulus : Pemikiran Utama Theologinya, (Surabaya: Momentum, 2008), hal. 213

[2] Ibid, hal. 213

[3] Herman Ridderbos, Paulus : Pemikiran Utama Theologinya, (Surabaya: Momentum, 2008), hal. 214

[4] Joseph A. Fitzmyer, Pauline Theology, (New Jersey: Prentice Hall, 1967), hal. 63-64

[5]J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri (Surabaya: Momentum, 2008), hal. 77

[6] Donald Guthrie, New Testament Theology (Leicester: Inter Varsity Press. 1997), hal. 645

[7] Ibid, hal. 647

[8] Herman Ridderbos, Paulus : Pemikiran Utama Theologinya, (Surabaya: Momentum, 2008), hal. 219-220

[9] Ibid, hal. 223

[10] Tom Jacob, Paulus : Hidup, Karya, dan Theologinya (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hal. 236

[11] Herman Ridderbos, Paulus : Pemikiran Utama Theologinya, (Surabaya: Momentum, 2008), hal. 101

[12] Herman Ridderbos, Paulus : Pemikiran Utama Theologinya, (Surabaya: Momentum, 2008), hal. 230

[13] Thomas R. Schreiner, Paul: Apostle Of God’s Glory In Christ (Leicester: Inter Varsity Press), hal. 316

[14] Herman Ridderbos, Paulus : Pemikiran Utama Theologinya, (Surabaya: Momentum, 2008), hal. 244

[15] Joseph A. Fitzmyer, Pauline Theology, (New Jersey: Prentice Hall, 1967), hal. 64

[16] Leonhard Gopplet, Theology of The New Testament Volume 2, (Grand Rapids: Eerdmans Publishing Company, 1982), hal. 127-130

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar